Pelajaran dari Seekor “Pycnonotus baradus”

Publish di burung-nusantara.org dalam kegiatan lomba Menulis BuNu 2012

Saya mulai berkenalan dengan kegiatan pengamatan burung (birdwatching) sekitar tujuh tahun yang lalu.Bermula dari kegiatan magang di stasiun penelitian di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Awalnya sangat susah sekali. Jangankan untuk mengetahui jenisnya, melihat dengan teropong saja sulit karena belum punya pengalaman menggunakannya. Untungnya salah satu pengamat disana mau mengajari menggunakan teropong hingga mengidentifikasi burung.

Kendala yang biasanya dihadapi oleh orang yang pertama kali menggunakan teropong adalah objek yang dilihat menjadi dua, sehingga penggunanya memicingkan matanya sebelah seperti sedang mengintip.Hal tersebut dapat diatasi dengan menggerak-gerakkan engsel teropong sehingga diperoleh jarak yang pas antara mata kiri dan kanan.

Kendala berikutnya adalah adanya bayangan bulu mata di dalam lensa sehingga pandangan menjadigelap, hal ini terjadi karena mata pengamat terlalu dekat dengan lensa okuler (lensa yang berada dekat dengan mata).Teropong biasanya memiliki pengatur jarak dari mata ke lensa, sehingga mata pengamat tidak menempel di lensa dan menimbulkan bayangan bulu mata.

Setelah mampu melihat dengan jelas,kendala berikutnya adalah pengamat tidak mampu menemukan objek yang hendak diamati.Perlu banyak berlatih untuk kendala yang satu ini. Pengamat senior yang membimbing saya memberikan tips seperti ini. Sebelum kita melihat obyek dengan teropong, coba amati dulu dengan mata telanjang. Selanjutnya coba ingat-ingat posisi burung, sehingga saat kita menggunakan teropong kita dapat langsung mengarahkan teropong ke posisi yang sudah kita tentukan tadi.

Cara lain, misalkan burung yang hendak diamati sedang bertengger di pohon, maka kita dapat menggunakan panduan objek yang besar seperti batang pohon yang kemudian kita telusuri hingga ke dahan tempat burung tersebut bertengger.

Ada hal menarik yang terjadi saat saya baru belajar pengamatan. Saat pulang dari berjalan-jalan mengamati burung, kami melintasi sebuahsungai. Di situ terlihat seekor burung berwarna coklat, kemudian saya bertanya dengan pengamat yang membimbing saya, “Mas itu burung apa?” seraya menunjuk ke arah burung.

Pengamat tersebut melihat sebentar dan langsung menjawab, “Oh itu Pycnonotus baradus.”Tanpa piker panjang, saya langsung catat jenisitu di buku dan kembali melanjutkan perjalanan pulang. Pengamat di stasiun penelitian ini memang terbiasa menggunakan nama latin untuk identifikasi burung, sehingga saya harus beradaptasi dengan bahasa yang jarang saya dengar.

Sesampainya di lokasi berkemah, saya buka lagi buku panduan Burung-burung di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali yang ditulis oleh John McKinnon. Ini merupakan salah satu‘kitabsuci’pengamat burung di Indonesia. Setelah bolak-balik buku tersebut. Saya tidak juga menemukan jenis burung di dekat sungai tadi. Saya mulai bertanya kepada orang yang memberitahukan nama jenis tadi, “Mas kok disini ngga ada burung Pycnonotus baradus?” Dia tidak langsung menjawab dan hanya tersenyum saja.

Kebetulan disitu banyak pengamat lainnya yang sedang beristirahat sambil menikmati segelas kopi dan pemandangan indah hutan hujan dataran rendah. Pengamat lainnya mencoba meyakinkan apa yang dia dengar dengan meminta saya mengulangi nama jenis burung tadi.“Pycnonotus baradus,” ujar saya sekali lagi.Ternyata dia juga bingung burung apa itu.

Akhirnya pendamping saya tadi menjelaskan. “Nama Pycnonotus baradus adalah pelesetan saja. Baradus merupakan bahasa Jawa yang artinya baru selesai mandi (bar adus), karena burung tersebut terlihat di dekat sungai. Jadi Pycnonotus baradus artinya burung Pycnonotus yang baru saja selesai mandi,” katanya dengan santai.

Mendengar penjelasan itu maka pecahlah gelak tawa seisi kemah. Bukan tanpa alasan dia mengganti nama burung tadi. Itu dilakukannya karena sejak awal saya hanya banyak bertanya dibandingkan mengidentifikasi jenis burung. Oleh sebab itu, dia ingin memberikan sedikit pelajaran kepada saya. Sebuah pelajaran berharga yang dapat saya petik yaitu untuk menjadi pengamat burung janganlah malas mencatat dan mendeskripsikan burung yang kita lihat serta mencocokannya dengan buku panduan. Karena dengan mengidentifikasi sendiri maka akan lebih mudah bagi kita untuk mengingatnya.

  • Penulis : Jani Master
  • Foto : Iwan Londo dan Noni
  • Tulisan merupakan hasil dari kegiatan lomba Menulis BuNu 2012

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s