Fauna Tanah

Salah satu dekomposer yaitu fauna tanah. Fauna tanah adalah fauna yang hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah.  Beberapa fauna tanah, seperti herbivora, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas akarnya, tetapi juga hidup dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Jika telah mengalami kematian, fauna-fauna tersebut memberikan masukan bagi tumbuhan yang masih hidup, meskipun adapula sebagai kehidupan fauna yang lain. Fauna tanah merupakan salah satu kelompok heterotrof    yaitu  makhluk hidup di luar tumbuh-tumbuhan dan  bacteria, yang hidupnya tergantung dari tersedianya makhluk hidup produsen utama di dalam tanah.

Fauna tanah adalah organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam tanah (Kimmins 1987). Suhardjono dan Adisoemarto (1997) menyatakan bahwa artropoda tanah adalah semua kelompok binatang yang sebagian atau seluruh daur hidupnya bergantung pada tanah karena sumber pakannya terdapat di tanah. Fauna tanah terdiri dari makrofauna, mesofauna dan mikrofauna (Kimmins 1987).  Keberadaan  fauna tanah dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah.  Walaupun begitu, proses penguraian atau dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu  berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah.

Hara yang dikelurkan dari daun dan kayu yang membusuk biasanya  tidak bergerak secara langsung ke dalam tanah atau akar pohon, tapi akan melewati semua rangkaian siklus  diantara bagian bahan organik dari tanah. Pada proses dekomposisi daun, siklus itu sering  bekerjasama dengan arthropoda tanah yang mengunyah daun-daun. Ketika unsur-unsur hara melewati sistem pencernaan artrophoda, senyawa organik kompleks diubah menjadi senyawa  sederhana yang  siap digunakan oleh organisme tanah  lain.

Dekomposisi daun dan kayu juga dapat diawali dengan penyerbuan jaringan oleh jamur dan bakteri. Organisme ini dengan cepat menghentikan banyak kation yang dapat larut dalam jaringan dan merubah sifat subtrat itu. Kadang kala mengamankannya agar lebih tahan. Substrat yang tahan sering mengarahkan jamur untuk mambentuk koloni di dalamnya. Saat senyawa dikeluarkan dari hifa jamur, konsentrasi nutrisi pada sampah meningkat kembali dan pembentukan koloni bakteri kembali terarahkan. Pergantian oraganisme selama dekomposisi sangatlah kompleks, banyak spesies yang terlibat dan  detailnya berbeda untuk setiap kasus (Swift et al. 1979).

Pengelompokan terhadap fauna tanah sangat beragam, mulai dari Protozoa, Rotifera, Nematoda, Annelida, Mollusca, Arthropoda, hingga Vertebrata. Fauna tanah dapat dikelompokkan atas dasar ukuran tubuhnya, kehadirannya di tanah, habitat yang dipilihnya dan kegiatan makannya. Berdasarkan kehadirannya, fauna tanah dibagi atas kelompok transien, temporer, periodik dan  permanen. Berdasarkan habitatnya fauna tanah digolongkan menjadi golongan epigeon, hemiedafon dan eudafon. Fauna epigeon hidup pada lapisan tumbuh-tumbuhan di permukaan tanah, hemiedafon pada lapisan organik tanah, dan yang eudafon hidup pada tanah lapisan mineral. Berdasarkan kegiatan makannya fauna tanah ada yang bersifat herbivora, saprovora, fungifora dan predator (Suin 1997).

Sedangkan fauna tanah berdasarkan ukuran tubuhnya menurut Wallwork (1970), dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu; mikrofauna (20 µ – 200 µ), mesofauna (200 µ – 1 cm) dan makrofauna (lebih dari 1  cm). Menurut Suhardjono dan Adisoemarto (1997), berdasarkan ukuran tubuh fauna tanah dikelompokkan menjadi: (1). mikrofauna adalah kelompok binatang yang berukuran tubuh < 0.15 mm, seperti: Protozoa dan stadium pradewasa beberapa kelompok lain misalnya Nematoda, (2). Mesofauna adalah kelompok yang berukuran tubuh 0.16 – 10.4  mm dan merupakan kelompok terbesar dibanding kedua kelompok lainnya, seperti:  Insekta, Arachnida, Diplopoda, Chilopoda, Nematoda, Mollusca, dan bentuk pradewasa dari beberapa binatang lainnya seperti kaki seribu dan kalajengking, (3). Makrofauna adalah kelompok binatang yang berukuran panjang tubuh > 10.5 mm, sperti: Insekta, Crustaceae, Chilopoda, Diplopoda, Mollusca, dan termasuk juga vertebrata kecil.  Odum (1998), menyebutkan bahwa mesofauna tanah meliputi nematoda, cacing-cacing oligochaeta kecil enchytracid, larva  serangga yang lebih kecil dan terutama yang secara bebas disebut mikroarthropoda seperti tungau-tungau tanah (Acarina) dan springtail (Collembola) seringkali merupakan bentuk-bentuk yang paling banyak tetap tinggal dalam tanah.

Menurut Hole (1981) dalam Rahmawaty (2000), fauna tanah dibagi menjadi dua golongan berdasarkan caranya mempengaruhi  sistem tanah, yaitu: (1). Binatang eksopedonik  (mempengaruhi dari luar tanah), golongan ini mencakup binatang-binatang berukuran besar, sebagian besar tidak menghuni sistem tanah, meliputi Kelas Mammalia, Aves, Reptilia, dan Amphibia. (2). Binatang  endopedonik (mempengaruhi dari dalam tanah), golongan ini mencakup binatang-binatang berukuran kecil sampai sedang (diameter < 1 cm), umumnya tinggal di dalam sistem tanah dan mempengaruhi penampilannya dari sisi dalam, meliputi Kelas Hexapoda, Myriopoda, Arachnida, Crustacea, Tardigrada, Onychopora, Oligochaeta, Hirudinea, dan Gastropoda.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s