Alelopati

Alelopati  adalah  interaksi  biokimia  antara mikroorganisme atau tanaman baik yang bersifat positif   maupun   negatif   (Molisch,1937   dalam  Putnam dan Duke, 1978). Warnell (2002) mendefinisikan alelopati sebagai suatu kadungan bahan kimia yang bersifat aktif maupun pasif yang dibebaskan ke lingkungannya sehingga mempengaruhi organisme lainnya. Senyawa alelopati kebanyakan dikandung pada jaringan tanaman, seperti akar, ubi, rhizome, batang, daun, bunga, buah dan biji yang dikeluarkan tanaman melalui cara penguapan, eksudasi akar, hasil lindihan dan pelapukan sisa-sisa tanaman (Moenandir, 1988) yang mampu mengganggu pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Beberapa senyawa yang diidentifikasi sebagai alelopati  adalah flavanoid, tanin, asam fenolat, asam ferulat, kumarin, terpenoid, stereoid, sianohidrin, quinon, asam sinamik dan derivatnya, (Risvi et al.,1992).

Alelopati mampu menurunkan perkecambahan benih dan memperlama waktu untuk berkecambah maupun kemunculan bibit di permukaan tanah dibanding tanpa alelopati, karena aelopati mengakibatkan hambatan aktivitas enzim-enzim yang melakukan degradasi cadangan makanan dalam benih sehingga energi tumbuh yang dihasilkan sangat rendah dan dalam waktu lebih lama yang selanjutnya menurunkan potensi perkecambahan. Menurut Sastroutomo (1991) bahwa mekanisme alelopati antara lain menghambat aktivitas enzim, bahkan menurut Fitter dan Hay (1991) bahwa alelopati dapat menyebabkan terjadinya degradasi enzim dari dinding sel, sehingga aktivitas enzim menjadi terhambat atau mungkin menjadi tidak berfungsi. Hambatan fungsi enzim A amylase dan B amylase pada degradasi karbohidrat, enzim protease pada degradasi protein, enzim lipase pada degradasi lipida dalam benih menyebabkan energi tumbuh yang dihasilkan selama proses perkecambahan menjadi sangat sedikit dan lambat, sehingga proses perkecambahan menurun yang dicerminkan pada penurunan prosentase perkecambahan dan meningkatnya lama waktu untuk berkecambah.

Selain itu Alelopati menyebabkan penurunan permiabilitas membran sel, menghambat pembelahan, pemanjangan dan pembesaran sel, menurunkan kemampuan penyerapan air dan unsur hara terlarut (Sastroutomo, 1991). Penurunan permiabilitas sel akibat alelopati menjadikan sel tidak elastis sehingga menghambat lalu lintas air dan hara terlarut melewati membran sel. Devlin dan Witham (1983) menyebutkan bahwa permiabilitas sel yang menurun menyebabkan hambatan lewatnya air dan hara terlarut. Hambatan tersebut terjadi pada saat proses penyerapan unsur hara yaitu masuknya air dan hara terlarut ke sel akar maupun transportasi unsur hara dan hasil fotosintesis diantara sel-sel jaringan

pengangkut dalam tanaman. Hambatan penyerapan unsur hara menyebabkan jumlah dan macam unsur terserap sedikit, yang selanjutnya mengakibatkan hambatan penyusunan senyawa, reaksi tertentu maupun proses fisiologi tanaman. Hambatan penyerapan unsur, seperti N, S, P, Fe, Mg dan Mn mengakibatkan hambatan penyusunan senyawa protein dan klorofil.

Jenis pohon yang mengandung senyawa alelopati memiliki beberapa kelompok bahan biokimia yang khas terhadap organisme lain : pertama,senyawa yang mengandung anti-biotik (jasad renik kepada jasad renik);  kedua koloni (berkelompok); ketiga, senyawa fitosianida (sumber bahan kimia yang berpengaruh pada bahan kimia mikroorganisme). Kandungan senyawa Allelopati pada pohon yang bersifat efek racun memberikan efek bagi tumbuhan sehingga mempengaruhi perkecambahan benih, pertumbuhan akar, efektivitas simbiotik, merubah lahan yang mengandung banyak jasad renik, dan bersifat sebagai pathologi pada serangga. Jenis Juglans nigra menurut Isfahan  and Shariati (2007) mempunyai senyawa alelopati yang dapat mematikan tanaman Lycopersicum esculentum (tomat) dan Medicago sativa (alfalfa). Chou dan Kuo (1986) dikutip Lambers et.all (1998) menyatakan bahwa sumber racun alelopati pada pohon adalah daun, batang, cabang dan akar yang mengandung asam phenol. Peranan asam fenol sangat menarik, menurut Hay (1991) senyawa ini merupakan produk pemecahan yang bisa mengakibatkan penghambatan terhadap pengambilan fosfat dan kalium.

Efek racun tersebut dapat terjadi karena kandungan senyawa alelopati. Penyusun senyawa alelopati menurut Lambers et.all (1998) terdiri atas senyawa terpenoid yang terbagi dalam beberapa kelompok seperti 1,8-cineole, camphor, α-pinen, β-pinen, champene dan tujon. Selain itu terdapat juga senyawa alelopati yang larut dalam air seperti o-asam koumarik, p-OH asam benzoad yang terdiri atas asam vanilik dan asam ferulik. Bentuk aksi senyawa alelopati sangat bervariasi dan besarnya belum semuanya diketahui. Sangat sedikit jenis tanaman yang diketahui sebagai penghasil alelopati. Untuk bisa mengetahui tumbuhan yang berpeluang mengandung senyawa alelopati Warnell (2002) menyebutkan tumbuhan yang mengisi pertama kali kehidupan suksesi, jenis eksotis dan introduksi pada suatu lahan dapat berpeluang menjadi senyawa alelopati. Senyawa lain yang berperan sebagai alelopati adalah Kelompok fenol yang berperan dalam penghambatan perkecambahan kelompok rumput-rumputan dan herba, dimana senyawanya menghalangi kelompok tersebut dalam pengambilan ion dari

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s